Tampilkan postingan dengan label Artikel SIG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel SIG. Tampilkan semua postingan

10 Mei 2008

Penting!, Pemahaman Geografi Bagi Politisi

Geografer dari Universitas West Virginia, Kenneth L Martis, yang juga ikut menulis buku "The Historical Atlas of United States Presidential Election 1788-2004", buku yang memetakan pemenang pemilihan presiden di setiap daerah di seluruh AS, menyebut bahwa politikus membutuhkan pemahaman geografi untuk kemenangan mereka dalam sebuah pemilihan umum.

Selengkapnya...

"Kita tahu pentingnya pemahaman mengenai tempat - dimana Anda memilih, apa jenis lokasi di kota tempat memilih, antara inner-city, kelas pekerja pinggiran, kelas menengah atas pinggiran, ex-urban, pedesaan dan seterusnya. Saya tak ingin menyebut geografi sebagai determinan terpenting, namun sangat penting dalam berbagai perbedaan aspek kehidupan," katanya dalam wawancara dengan Gannett News Service.

Masih menurut Martis, dalam setiap level geografis ini lebih dari sekadar pedesaan versus metropolitan, namun apa yang dia sebut sebagai "Red State-Blue State". "Jika kita lihat pada tingkat presidensial, khususnya, Anda memiliki wilayah metropolitan memilih Demokratik, dan Anda menemukan sejumlah pedesaan di AS yang memilih Republik."

"Kita memiliki sekitar 3.000 lebih county di AS, dan banyak pemilihan kembali ke waktu Reagan dan sebagian ke (1972) Nixon yang menyaingi McGovern, Anda akan memiliki 2.100 lebih county di AS yang memilih kandidat Republik," katanya.

Ketika ditanya tentang pemilihan kongres tahun ini, dia mengatakan bahwa wilayah Selatan AS selalu menjadi wilayah pemilihan tradisional AS, dan selalu menjadi keunikan dalam budaya politik AS.

"Partai Demokrat menjadi lebih dan lebih lagi- memulainya dengan gerakan hak-hak sipil. Dan dengan pelan Partai Republik, menjadi partai yang lebih tradisionalistik. Pola pemilihan di Selatan selalu memilih partai tradisionalistik. Bagaimana di utara? "Negara-negara bagian di utara lebih memiliki budaya politik moralistik, termasuk perlawanan terhadap perbudakan, perang sipil dan lainnya. "Jadi di negara-negara bagian di bagian utara lebih memiliki pandangan yang moralistik dan Partai Demokrat mengambil posisi ini dalam peperangan hak sipil pada tahun 60-an," katanya.

Jika diketahui secara substansial kandidat Republik kehilangan di bagian Selatan tahun ini, apakah ini akan menjadi menjadi akhir dari masa pemilihan? "Saya tak tahu jika era itu telah berakhir, khususnya dalam level presidensial. Beberapa kandidat Demokrat selalu terpilih dari Selatan. Di perkotaan maupun suburban dan exurban di bagian Selatan, kandidat Republik kemungkinan tetap menguat. Ada kemungkinan untuk era dalam sejarah Amerika Anda tidak memiliki suatu daerah yang solid untuk memilih senator dan kongres dan presiden dari satu partai.

Kebijakan Pemerintah Harusnya Memperhitungkan Data Spasial

Pemerintah diharapkan untuk memperhitungkan pemanfaatan data-data spasial sebelum mengambil sebuah kebijakan, selain perlunya dipersiapkan perangkat peraturan yang secara khusus mengatur sistem informasi spasial di Indonesia.

Selengkapnya...

Harapan itu antara lain disampaikan anggota Komisi VI DPR-RI Cecep Rukmana , mantan Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-jakti dan Dekan Fakultas Geografi UGM Dr Hartono, dalam Forum Geoinformasi, Pemetaan dan Riset Geomatika, yang digelar oleh Bakosurtanal, di Jakarta, Rabu (7/12). Acara ini diberi tema "Investasi dan Riset Berkualitas dengan Data Spasial Berkualitas".

Cecep Rukmana menyayangkan, sejauh ini banyak masalah muncul berkait dengan kebijakan yang tidak mempertimbangkan data spasial. Sebagai contoh mengenai data beras yang menjadi acuan untuk mengimpor beras, ternyata hanya menggunakan sampling. Sehingga tidak diketahui keakuratannya.

Data spasial sendiri, lanjut Cecep, belum menjadi informasi yang dapat menjadi komoditi akibatnya hanya sedikit orang yang menggunakannya. “Hendaknya di masa mendatang pemerintah gunakan data spasial untuk mendukung keluarnya sebuah kebijakan,” begitu Cecep.

Dorodjatun sebelumnya menyebut bahwa tidak dimanfaatkannya data spasial berdampak jelas dalam berbagai hasil pembangunan yang merugikan, misalnya banyak bangunan yang dibangun pada tempat yang tidak cocok, lokasi lahan tidak memperhitungkan kondisi tanah, sehingga tak heran jika muncul berita perubahan mewah kebanjiran atau bangunan amblas karena longsor.

Namun begitu, ia menyadari bahwa data spasial di Indonesia memang belum sepenuhnya memadai. Ia menceritakan pengalaman yang kesulitan untuk mencari peta daerah yang jauh dari pulau Jawa dalam ukuran satu berbanding tiga ribu (1:3.000), kebanyakan sekitar 1:25.000 atau 1:50.000. Akibatnya banyak perusahaan saat ini yang mencari lahan bukan berdasarkan data spasial tetapi berdasarkan perhitungan pasar, misal yang harganya murah atau yang dekat pelabuhan, kata Dorodjatun.

Sementara itu Dr Hartono mengatakan, dewasa ini Indonesia ditantang untuk menjamin ketersediaan basisdata dan sistem informasi data spasial nasional (darat dan laut) terpadu serta peningkatan kualitasnya.

Dikatakan, Indonesia belum memiliki kualitas data spasial memadai yang dapat diakses di semua sektor sehingga belum semua perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah nasional, regional maupun lokal yang berdasarkan informasi dari data spasial.

Kualitas data ada beberapa level, lanjut Hartono, secara umum sudah terbilang baik tetapi untuk peningkatan data tematik masih banyak kendala. Lebih lagi, kesadaran setiap pihak untuk menggunakannya pun masih terbilang tidak begitu tinggi.
Dia kemudian mengidentifikasi beberapa permasalahan yang ada antara lain belum adanya tukar menukar informasi data dan metadata spasial untuk menghindari tumpang tindih pengadaan data, format data spasial yang acap kali berbeda pada instansi penyedia data dan pengguna data, dan ketersediaan data base dalam sistem informasi spasial nasional yang belum memadai.

Hartono juga menyinggung perlunya Indonesia memiliki Undang-Undang tentang Pengelolaan dan Pengembangan Basisdata dan Sistem Informasi Spasial Nasional. UU ini, kata dia, dianggap mendesak, terutama ketika menyangkut batas wilayah nasional dan internasional yang rawan sengketa, sehingga dapat disajikan dengan sebaik-baiknya agar dapat meminimalkan potensi konflik.

Hubungan Makanan dengan GIS

Kalau di Kanada sana, sebuah perusaaan GIS bernama DMTI Spatial, yang merupakan penyedia lokasi layanan analisis usaha telah bekerjasama dengan jaringan restoran St-Hubert Bar-B-Q Ltd yang berbasis di Quebec, untuk mengkoordinasikan dan mengatur layanan pesanan makanan di untuk jaringan restoran yang jumlahnya 100 dan berlokasi di Quebec, Ontario dan New Brunswick.

Selengkapnya...

Setiap tahun restoran ini menerima sekitar 2 juta panggilan pemesanan. Dengan menggunakan DMTI’s CanMap Street Files digabungkan dengan kode pos yang sudah diolah dengan menggunakan ArcGIS Server dan ArcGIS Desktop, agent pengelola layanan lokasi di St-Hubert’s call center dapat mengetahui posisi pelanggan dan dengan cepatnya bisa mengirim pesanan ke tempat tinggal si pesan dari restoran terdekat.

Prosesnya bisa digambarkan; pertama kali pelanggan menghubungi call center; call center akan mencatat nama, alamat serta nomor telepon; kemudian nama ini akan dimasukan ke database sekaligus sistem yang mencari serta menentukan lokasi jaringan restoran terdekat untuk memenuhi pesanan; Pada tahap selanjutnya pemesan cukup menyebutkan nama dan nomor telepon, maka secara lebih cepat pesanan bisa diantar. Jika ternyata pelanggan tidak memiliki alamat yang pasti, maka dapat juga dengan menggunakan alamat publik seperti rumah sakit, mall, tempat parkir, taman, dsb.

Sistem ini di Jakarta mirip dengan yang digunakan oleh satu perusahaan Taxi terkenal. Dengan cara yang sama perusahaan taxi akan mengkontak via radio, taksi terdekat untuk menjemput pelanggan. Sayangnya dengan keterbatasan data spasial seringkali taksi datang terlambat sekali. Sistem geocoding di Kanada memungkinkan setiap wilayah terdeteksi secara lebih cepat. Itulah pentingya data spasial, bukan cuma jadi hiasan dinding.

Sumber : http://www.dmtispatial.com (Rabu, 01 Agustus 2007)

09 Mei 2008

SIG Bantu Tingkatkan Pelayanan POLRI

Menyadari pentingnya informasi keruangan, Polda Metro Jaya bangun SIAP! (Sistem Informasi Aplikasi Polisi) dan Traffic Management Center (TMC) dalam menangani tindak kriminal. Meski tertinggal dibanding polisi di negara maju, langkah ini dinilai sebagai awal penggunaan informasi geografis.

Selengkapnya...

Dalam situsnya, www.lantas.metro.polri.go.id, Polda Metro Jaya mengharapkan kerjasama masyarakat untuk melaporkan informasi kejadian kriminal di wilayahnya.

Ada dua cara yang mungkin digunakan oleh masyarakat untuk melaporkan suatu kejadian, pertama, kirim pesan singkat (sms) ke 1717, dan kedua, dengan menelpon langsung ke nomer bebas pulsa 112.

Dengan kerjasama dari semua opertor selular, baik telpon dan sms, dapat langsung diakses oleh pusat sistem ini. Pusat sistem ini akan langsung mengetahui posisi pengirim berita. Dengan demikian, mobil patroli polisi yang telah terpasang GPS (Global Positioning System) terdekat dengan lokasi kejadian akan datang.

Maka dari itu, jangan sembarang memberi informasi iseng, posisi anda akan terdeteksi oleh pihak polisi dan akan terus terpantau selama kartu anda tidak dilepas dari telefon genggam.

Hal ini dapat dilakukan melalui pelacakan nomer telepon atau ponsel si pengirim melalui teknologi GPS

Tak hanya itu, untuk kecelakaan di jalan, polisi akan mendapatkan gambar tempat kejadian berlangsung, karena telah terpasang kamera.

Aplikasi SIG Untuk Kesehatan

Kalau dibilang bangsa ini latah, banyak orang pasti protes tapi pasti banyak juga yang akan mengiyakan. Latah ini bukan ternyata juga muncul ketika wabah penyakit (flu burung, SARS, HIV, dll) bermunculan di negeri tercinta ini. Salah satu latah yang muncul adalah mulai terpikirkan (mungkin sudah terpikir lama tetapi belum punya dana) untuk membuat yang namanya GIS untuk mengatasi/mengurangi/mencegah penyakit menular. Latah ini bagus kalau tidak hanya sebatas wacana, tetapi diwujudkan dengan membangun sebuah sistem.

Selengkapnya...

Kajian geografi dalam bidang kesehatan bukan merupakan hal baru. Memetakan penyakit menular bukan sudah dilakukan dari jaman dahulu, banyak sekali ahli epidemiologi bekerja untuk memetakan lokasi penyebaran penyakit menular, mempelajari pola penyebaran secara spasial sebagai bahan analisis untuk mencegah penyebaran penyakit menular tersebut.

Secara tradisional ahli epidemiologi menggunakan peta dalam menganalisa hubungan antara lokasi, lingkungan dan penyakit. Kemudian akhirnya GIS digunakan sebagai alat bantu pemantauan dan monitoring dari penyebaran penyakit melalui wadah vektor, air, kondisi lingkungan serta analisis lain yang lebih kompleks seperti faktor kebijakan, perencanaan kesehatan sampai digunakan juga untuk menyimpulkan serta membuat hipotesis bagi penyelesaian masalah kesehatan.

GIS sebagai alat bantu mampu membantu peneliti kesehatan dalam menentukan area yang rentan terjangkit, kelompok masyarakat yang juga rentan serta digunakan juga sebagai alat identifikasi alokasi sumberdaya dalam rangka penyelesaian masalah penyakit menular. Seorang ahli epidemiologis dengan seorang geografer bisa bekerjasama dan saling membantu dalam masalah penyebaran serta penanggulangan penyakit menular.

Beberapa kasus belakangan ini yang terjadi di Indonesia mulai dari flu burung (avian influenza), antrax, dll mampu menyedot perhatian pemerintah bahwa negeri ini rentan terhadap serangan penyakit menular. Belum lagi dengan penyakit 'tahunan' seperti demam berdarah, malaria, diare, dll. Heboh ini dipicu juga oleh ketakutan beberapa organisasi kesehatan yang mengkhawatirkan virus-virus ini menyebar ke seluruh dunia. Coba saja buka situs WHO yang terus memantau kejadian-kejadian penyakit menular di dunia (www.who.org).

Kalau kemudian pemerintah untuk mencari solusi dalam penyelesaian masalah penyebaran penyakit menular, kita semua harus membantu. Sumbangan komunitas geografi adalah analisis spasial yang mampu menjadi bahan dalam pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah penyakit menular, solusi termudah adalah "mengompori" pemerintah membuat suatu sistem terpadu secara spasial (tentunya dengan GIS sebagai alat bantu) dalam memetakan, memantau kejadian penyakit menular, menganalisa lokasi rentan, menganalisa faktor-faktor lingkungan, cuaca serta modus bepergian masyarakat. Sebelum terjebak ke penjelasan detil teknis GIS, penulis merasa bahwa membangun sebuah sistem ini sangat mudah, dengan SDM yang ada, dengan sumber keuangan yang ada, dengan dukungan hardware atau software yang ada tentu saja semua tujuan pembangunan sistem ini akan terwujud.

Mundur ke belakang adalah pilihan yang paling bagus dalam mewujudkan sebuah Kerangka Kerja yang lebih lengkap, melibatkan semua pihak, melibatkan semua daya dan kemampuan yang ada dalam membangun sebuah sistem berbasis spasial yang mampu memberikan masukan bagi penanggulangan masalah penyakit menular. Mundur ke belakang ini terdiri atas beberapa langkah; pertama adalah memetakan siapa sudah berbuat apa (stakeholders mapping), kedua mendata siapa akan berbuat apa; ketiga adalah menilai dari mana harus melangkah.

Dari langkah mundur ini, baru langkah ke depan ditentukan; pertama membangun komitmen bersama; kedua adalah menentukan prioritas; ketiga adalah membangun sistem yang berkelanjutan (sustainable). Langkah mundur tadi mampu menjegah beberapa hal mubazir seperti adanya inisiatif pengulangan atau kadang orang bijak sering menyebut "DO NOT RE-INVENTING THE WHEEL", mencegah kegiatan yang hanya menyokong kepentingan segelintir kelompok. Di sinilah peran pemerintah dituntut lebih, lebih sebagai organisatoris, lebih sebagai pemimpin, lebih sebagai penjamin bahwa semua sistem yang dibangun akan didukung oleh kebijakan yang sifatnya jangka panjang.

Pada tahapan pelaksanaan geografer mampu menyumbangkan banyak pikiran, mampu memberikan banyak solusi. Analisis spasial yang mampu menghasilkan masukan berharga bagi bidang kesehatan khususnya penyakit menular ini bukan hanya sekedar teori tetapi bisa dilakukan di negeri ini. Meskipun sempat bergumam dalam hati 'kenapa baru sekarang!!!??' paling tidak beberapa pemikiran untuk mulai mengaplikasi ilmu geografi dalam bidang kesehatan bisa menjadi langkah terbaik dalam menanggulangi permasalahan di negeri tercinta ini.

Mudah-mudahan dengan aplikasi GIS bidang kesehatan tidak akan ada lagi peta 'buruk rupa' seperti yang bisa di download dari situs Depkes seperti gambar berikut :















Sumber: Musnanda Satar [Pemerhati masalah GIS, lulusan Geografi FMIPA UI tahun 1996, lulusan Program Pascasarjana Planologi ITB (2005)].

Aplikasi SIG Untuk Kelistrikan

Secara umum, dalam bidang kelistrikan aplikasi SIG dapat digunakan untuk manajemen inventarisasi jaringan listrik, perencanaan jaringan tahun berikutnya, misalnya penentuan letak Gardu listrik, rute jaringan yang optimal, sampai pada penentuan lokasi kantor pelayanan pelanggan.

Selengkapnya...

Teknologi SIG dalam bidang kelistrikan diterapkan untuk memetakan daerah/lokasi pelanggan, asset jaringan, dan semua informasi yang terkait dengan pelanggan dan asset jaringan tersebut. Dan dalam perkembangannya, data ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dalam rangka pembangunan dan implementasi infrastruktur ketenagalistrikan.Agar kegiatan tersebut dapat terselenggara dengan baik sebagaimana mestinya maka data yang dipergunakan harus memadai dalam arti lengkap, mutakhir, akurat dan dapat ditelusuri setiap perubahan yang terjadi ( updating data setiap setiap terjadi perubahan ).

Pada dasarnya data merupakan asset perusahaan yang sangat berharga, karenanya harus diperlakukan dengan cermat seperti kelaziman memberlakukan sumber daya perusahaan lainnya seperti uang dan material. Untuk menjamin bahwa data yang dipergunakan pada kegiatan ini memenuhi persyaratan standar, perlu disiapkan pedoman serta petunjuk yang jelas tentang bagaimana data yang dibentuk/bagaimana perubahan dilakukan serta bagaimana mengkoreksi kesalahan yang terjadi pada saat data dibentuk.

Selain yang sudah disebutkan di atas, penerapan SIG dalam bidang kelistrikan dimaksudkan untuk:
a) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja yang ditunjang oleh data yang akurat, yang bukan saja merupakan data teks, tetapi juga didukung dengan data keruangan (spasial)
b) Meningkatkan kecepatan dalam hal pengambilan keputusan.
c) Meningkatkan monitoring khususnya dalam hal informasi jaringan kelistrikan yang sedang berjalan. Misalnya penambahan/pengurangan asset, serta monitoring terhadap perpindahan lokasi asset.
d) Tujuan akhir dari semua di atas adalah untuk meningkatkan pelayananan pelanggan.

08 Mei 2008

Peta dan Kecantikan

Apa hubungan peta dengan kecantikan? Pertanyaan ini terkesan mengada-ada, namun itulah yang telah "digarap" oleh perusahaan Romania, Geo Strategis, yang mengerjakan aplikasi sistem informasi geografis (GIS) untuk perusahaan kosmetik terkemuka, AVON. Perluasan tematik GIS yang patut untuk dicontoh.

Selengkapnya...

Aplikasi ini, seperti diungkapkan dalam www.geo-strategies.com ditujukan bagi kemudahan perusahaan wanita, AVON Romania untuk melakukan perencanaan strategis, taktik penjualan, investasi dan untuk memonitor pertumbuhan penjualan di wilayah Romania.

Sejak tahun 2000, AVON Romania, telah menggunakan aplikasi ini untuk memplot dan mengimprovisasi pelaksanaan pemasaran dan penjualan mereka. Aplikasi ini telah memungkinkan analis perusahaan untuk memplot dan memvisualisasi kesuksesan komersial dalam konteks geografi regional dan struktur demografis.

Keunggulan aplikasi sangat membantu kesulitan dalam manajemen perusahaan yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan database dari sales representative, pelanggan, dan informasi sales regional. Dengan pertumbuhan pasar yang excellent, dan dengan database yang lebih simpel di tangan, para manajer dimungkinkan untuk melihat hutan dari atas pohon!.

Data yang mereka gunakan adalah peta Romania 1:200.000 dengan penurunan demografi ke 13 ribu pemukiman yang dimiliki Geo Strategis, peta digital Bucharest, dan database perusahaan baik berupa data representatives, informasi penjualan, dan file personil lainnya.

Permasalahan yang dihadapi dalam membangun sistem ini adalah informasi yang tersedia tidak sesuai dengan analisis fragmentasi menjelang sensus ibukota Bucharest (160 polygon). Demikian pula, demografi dan informasi gaya hidup di Romania tidak memiliki level yang sama seperti kode pos.

Selain manfaat yang telah disebutkan di atas, sistem ini juga membantu perusahaan memonitor permintaan kosmetik berbasis data demografis untuk setiap daerah, termasuk variabel deskriptif ? jumlah penduduk, gender dan struktur umur ? dan data prediksi ?termasuk penghasilan.

Aplikasi ini juga memungkinkan perusahaan untuk melakukan penetrasi pasar Romania, memahami dinamisasi pasar, pantauan kemajuan, dan mendorong perusahaan menjadi pemain utama dalam pasar. Out put dari aplikasi kini telaj menjadi komponen kunci dalam proses manajemen perusahaan.

Aplikasi ini membuat performa perusahaan di level daerah dapat divisualisasi, improvisasi koordinasi aktivitas sales di masing-masing manajer regional, mampu meredefinisi teritori sales berdasarkan trend konsumen, mengoptimalkan sumber daya prusahaan untuk menyeimbangkan alokasi teritori sales sehingga pasar sedapat mungkin tercover, memvisualisasi para pesaing dan wilayah geografis kompetisi, bermanfaat bagi efektifitas disseminasi bahan-bahan promosi, menciptakan proses baru dan instrumen sales, hingga membantu proses pengambilan keputusan perusahaan.

Sumber: Buana Katulistiwa - Kamis 19 Mei 2005

Peran SIG Bagi Media Massa

Manfaat GIS bagi tugas-tugas jurnalistik, termasuk dalam urusan pemasaran media, memang bukan berita baru. Koran Arizona Republic, di Arizona, AS, memanfaatkan GIS untuk menjual iklan bagi para pengiklan dengan lebih mudah.

Selengkapnya...

Arizona Republic, yang melayani sekitar 1,275 juta rumah tangga di Maricopa dan Pinal, Arizona, dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS ESRI memberikan pilihan bagi para pemasang iklan untuk menjangkau konsumen langsung, sehingga memudahkan mereka menargetkan konsumen lebih akurat daripada cara yang tradisional yakni pemasaran berdasarkan kode pos, kelompok blok sensus atau rute pengantaran.

GIS membuat penjualan dimasukkan ke pengiklan dengan lebih mudah. Koran ini kini telah menemukan solusi dari yang sebelumnya belum ditemukan, termasuk melakukan seleksi demografis berdasarkan geografi dan per rumah tangga. Ini memberikan konsumen mereka memiliki lebih keunggulan.

Staf penjualan log on ke dalam aplikasi berbasis pemetaan yang mencakup teritori yang di-cover Arizona Republic, untuk melihat para langganan maupun bukan langganan, lalu memilih dari daftar demografis untuk membantu pengiklan menemukan dengan mudah konsumen mereka.

Sebagai contoh, jika pengiklan tertarik dengan income para konsumen, mereka dapat memilih variabel demografik dan jumlah, misalnya income antara 50.000 dolar AS dan 74.999 dolar AS. Variabel demografis lainnya dapat dilihat misalnya berdasarkan kepemilikan kolam renang, dalam kelompok income yang mereka pilih.

Dengan menggunakan GIS, pengiklan dapat menemukan pasar khusus untuk konsumen yang mereka pilih berdasarkan rumah tangga untuk mereka masuki, untuk menggantikan rute pengantaran, kode wilayah atau blok sensus.